Netsembilan.com Indramayu-
Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Indramayu terus berkomitmen meningkatkan kualitas pembinaan bagi warga binaan, salah satunya melalui pelatihan keterampilan pembuatan tas rajut bagi warga binaan wanita. Kegiatan yang berlangsung pada 11–12 Mei 2026 ini digelar di Selasar Blok Wanita Lapas Indramayu bekerja sama dengan CV. Iswelaa Rajut.
Sebanyak 18 warga binaan perempuan mengikuti pelatihan tersebut dengan penuh antusias. Dalam kegiatan ini, para peserta dibimbing secara langsung untuk mempelajari teknik dasar hingga proses pembuatan tas rajut yang memiliki nilai ekonomis dan berpotensi dipasarkan sebagai produk UMKM.
Kepala Lapas Kelas IIB Indramayu, Fery Berthoni, menegaskan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari program pembinaan kemandirian yang bertujuan membekali warga binaan dengan keterampilan produktif yang dapat dimanfaatkan setelah mereka kembali ke masyarakat.
“Pembinaan di Lapas tidak hanya berfokus pada pembentukan sikap dan mental, tetapi juga pada pemberian keterampilan yang memiliki nilai ekonomi. Melalui pelatihan tas rajut ini, kami berharap warga binaan perempuan dapat memiliki bekal usaha yang bermanfaat untuk membangun kehidupan yang lebih baik setelah bebas nanti,” ujar Berthoni.
Ia menambahkan bahwa kegiatan ini sejalan dengan implementasi Asta Cita Presiden Republik Indonesia, khususnya poin ketiga mengenai penguatan ekonomi kerakyatan melalui pemberdayaan masyarakat dan pengembangan UMKM.
“Warga binaan juga merupakan bagian dari masyarakat yang harus diberdayakan. Dengan keterampilan seperti ini, mereka memiliki kesempatan untuk lebih mandiri, produktif, dan siap berkontribusi positif di tengah masyarakat,” tambahnya.
Pelatihan tas rajut ini menjadi salah satu bentuk nyata dukungan Lapas Indramayu terhadap program pembinaan berbasis keterampilan. Selain memberikan pengetahuan teknis, kegiatan ini juga diharapkan mampu menumbuhkan rasa percaya diri, kreativitas, dan semangat berwirausaha bagi para peserta.
Ke depan, Lapas Indramayu akan terus mengoptimalkan program pembinaan kemandirian, khususnya bagi warga binaan wanita, serta mendorong pengembangan produk kerajinan agar memiliki daya saing dan nilai tambah di pasaran. Monitoring dan evaluasi juga akan dilakukan secara berkelanjutan guna memastikan program pembinaan berjalan efektif dan memberikan manfaat yang nyata. (Ari)