Cianjur – Kekecewaan mendalam disampaikan oleh Sekretaris LSM PRABHU INDONESIA JAYA DPD Kabupaten Cianjur, Riki Supiandi, menyusul ketidakhadiran Bupati Cianjur dalam agenda audiensi yang sedianya membahas proyek Geothermal di kawasan Gunung Gede Pangrango. Padahal, pertemuan ini telah dijadwalkan dan menjadi ruang krusial bagi warga untuk menyuarakan kekhawatiran atas dampak lingkungan serta sosial dari proyek tersebut.
“Kami sangat menyayangkan sikap Bupati yang memilih tak hadir. Ini bukan sekadar masalah teknis jadwal, melainkan cerminan kurangnya empati dan tanggung jawab pemimpin terhadap rakyatnya,” tegas Riki dalam rilis pers yang diterima media, [tanggal].
Menurut Riki, audiensi adalah hak warga negara untuk mendapatkan transparansi. Dengan menghindari pertemuan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cianjur dinilai menutup mata terhadap potensi risiko pasca-gempa dan ancaman ekologis yang terus menghantui masyarakat sekitar Gunung Gede Pangrango.
“Kami datang membawa aspirasi arus bawah. Jika Bupati tidak bersedia duduk bersama, lantas kepada siapa lagi rakyat harus mengadu ketika ruang-ruang demokrasi di pendopo justru terasa tertutup?” ujarnya.
Riki juga menduga Pemkab Cianjur lebih mementingkan karpet merah bagi investor dibandingkan keselamatan nyawa warga. “Jangan tunggu bencana besar terjadi baru Bupati mau bicara.”
Lebih lanjut, ia mengungkapkan informasi yang diterima dari Badan Kesbangpol Kabupaten Cianjur bahwa Bupati disebut-sebut tidak mengetahui apa-apa tentang proyek Geothermal. Padahal, masyarakat telah berkali-kali melakukan audiensi dan unjuk rasa sebelumnya.
“Lucunya, Bupati tidak tahu proyek ini. Jangan biarkan rakyat berjuang sendirian di tengah ketidakpastian. Kami tidak butuh delegasi yang tidak memiliki wewenang pengambilan keputusan,” tegas Riki.
Ia pun menantang langsung Bupati Cianjur. “Jika proyek Geothermal ini aman dan pro-rakyat, mengapa Bupati takut berhadapan langsung dengan kami? Ketidakhadiran ini mengonfirmasi bahwa ada sesuatu yang disembunyikan di balik proyek ini.”
Riki menutup pernyataannya dengan mengingatkan bahwa kekuasaan memiliki mandat. “Kami tidak butuh pemimpin yang hanya muncul saat butuh suara, tapi lari saat rakyat butuh perlindungan.”