Iklan

Iklan

Aset Kepurbakalaan Nusantara, Aset Bangsa yang Perlu Dikembangkan dan Dilestarikan

klikindonesia
4 Des 2023, 20:50 WIB Last Updated 2023-12-04T13:50:41Z



 JAKARTA- 
Indonesia ternyata kaya akan warisan benda-benda purbakala yang tersebar di seluruh wilayah. Sampai saat ini para peneliti sudah banyak menemukan banyak situs purbakala mulai dari Sumatera, Jawa, Sulawesi, dan Nusa Tenggara Timur yang perlu untuk di gali dan dikembangkan terus agar bisa menjadi aset berharga bagi negara.

Sebagai contoh, para peneliti menemukan berbagai prasasti-prasasti kuno di Pulau Sumatra yang membentang dari Aceh hingga Lampung. Prasasasti-prasasti tersebut memiliki sejarah yang panjang dan dinamis. Banyak temuan-temuan baru yang mengungkap Sejarah, terutama pada masa kepurbakalaan Hindu-Buddha atau sekitar abad 7 hingga 14 Masehi. 

Pulau Sumatra merupakan satu landscap kultural, peradaban, juga lanskap negeri yang berhadapan langsung dengan daratan besar Asia. Hal ini membuat Pulau Sumatera memiliki koneksi cukup tua dengan dunia luar, seperti Afrika dan Timur Tengah.

Penelitian prasasti di Pulau Sumatera merupakan satu tema yang cukup penting dalam konteks bagaimana memposisikan Indonesia dalam hubungannya dengan dunia global pada jaman dulu. Ditinjau dari sisi kualitas dan jumlahnya, prasasti-prasasti di Sumatera tidak jauh berbeda dengan yang ada di Jawa. Sayangnya pembahasan dan pencarian nilai-nilai kepurbakalaan di wilayah Pulau Sumatra masih kurang atau belum semasif di Pulau Jawa.

Jika ke depan bisa dibangun banyak pusat-pusat kolaborasi dalam bidang arkeologi, maka diharapkan akan banyak ditemukan prasasti-prasasti kuno yang berisi tentang aturan dan keputusan-keputusan kerajaan yang bisa memberi nilai dan pandangan tentang kebangsaan kita masa lalu.

 
Pusat Kolaborasi Riset
Sebagai informasi, belum lama ini pada bulan November 2023 lalu Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) meresmikan satu Pusat Kolaborasi Riset Arkeologi Sulawesi yang merupakan hasil kerjasama  BRIN dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Hasanuddin. Pusat Kolaborasi Riset adalah salah satu model skema kegiatan BRIN dengan seleksi serta output yang sangat ketat. Dengan adanya kolaborasi BRIN bersama Universitas Hasanuddin dan Universitas Halu Oleo, maka bisa memberi inspirasi adanya pusat kolaborasi riset lainnya.

Terkait riset BRIN yang dilakukan di regional Sumatra, nantinya akan fokus pada ekskavasi di wilayah Bongal - Sumatera Utara dan Pantai Barat Sumatra dahulu, dan ke depan terus dikembangkan ke wilayah-wilayah lainnya. 
 


Penelitian BRIN tentang Prasasti Bongal, Sumatera Utara
Prasasti-prasasti yang ditemukan di Situs Bongal, Sumatera Utara oleh para peneliti BRIN berasal dari rentang abad 7 sampai 11 Masehi. Ditinjau secara paleografis, huruf/aksara yang tertulis pada prasasti-prasasti tersebut adalah huruf/aksara Pallawa Grantha dan Pasca Pallawa. Bahasa yang digunakan didominasi oleh kosakata yang berasal dari rumpun bahasa Austronesia, dengan sisipan kata yang diadopsi dari kosakata rumpun bahasa Indo-Aryan, khususnya Sansekerta.
Data yang diperoleh dari para peneliti BRIN, Prasasti Timah Sumatera tahun 2019, berisikan doa sekitar 15%, mantra 20%. Selebihnya berupa hal–hal yang diistilahkan dengan sebutan sapatha, aturan, rajah, yantra, ungkapan rasa, isoteris, dan masih ada lagi yang belum teridentifikasi. Doa dan Mantra yang berupa lempengan-lempengan Prasasti Timah Sumatera tersebut berasal dari Sungai Batanghari, Musi, dan sungai-sungai kecil di sekitarnya. 

Hasil kajian para peneliti menunjukkan bahwa ornamen hias pada peninggalan prasasti Raja Adityawarman sebagai penanda periodisasi pemerintah raja tersebut. Ornamen hias yang ada lebih dimaknai sebagai simbol legitimasi keagamaan dan menjadi bukti ketaatan dari Raja Adityawarman untuk mendalami agama dan mengajarkan agama-agama yang dianutnya.


Penemuan prasasti di Sumatra hingga saat ini masih sering terjadi baik karena dilaporkan oleh pemiliknya sendiri dengan tujuan agar dilakukan penelitian atau  ditemukan secara tidak sengaja oleh masyarakat maupun peneliti. Meskipun prasasti sudah tidak difungsikan lagi seperti pada masa Hindu-Budha, namun sangat penting bagi kita untuk memahami isi yang terkandung di dalamnya, sebagai refleksi terhadap peninggalan Sejarah. 

Bagi generasi muda mengenal peninggalan Sejarah akan tertanam rasa cinta dan bangga terhadap negeri sendiri dan menumbuhkan semangat nasionalisme. Disamping itu banyaknya temuan artefak purbakala di wilayah Nusantara akan menjadi aset yang tidak ternilai harganya bagi bangsa ini.
Oleh Ngadino - BRIN

LAPORAN : JAYA LANGIT
Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Aset Kepurbakalaan Nusantara, Aset Bangsa yang Perlu Dikembangkan dan Dilestarikan

Terkini

Iklan