Abdul Qodir Majid dari TPPD Kabupaten Cianjur menyarankan adanya tim monitoring untuk menjamin kesuksesan Pemkab Cianjur dalam meningkatkan IPM, khususnya soal keberadaan PKBM bidang Pendidikan.
NETSEMBILAN.COM | CIANJUR - Diskusi Publik yang digagas Rumah Bersama Urang Cianjur (RBUC) dan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Cianjur (YLBH-C) mengambil tema cukup tajam yakni "Siswa Fiktif, Data Rapuh dan IPM Cianjur Yang Jalan Di Tempat". Diskusi dilaksanakan di Kantor YLBH-C Jalan. Siti Boededar (Kaum Tengah) Kelurahan Pamoyanan, Kecamatan Cianjur dengan narasumber Ketua Neraca Pengeluaran dan Analisis Statistik Biro Pusat Statistik, A. Saebani, lalu Dadun zaelani mewakili Dinas Pendidikan Kabupaten Cianjur selaku Penilik Ahli Madia, Sekretaris Masyarakat Anti Korupsi (Marak) Alam Abu Bakar dan yang terakhir Abdul Qodir Majid dari Team Percepatan Pembangunan Daerah (TPPD). Senin (16/02/2026).
Indek Pembangunan Masyarakat menurut A. Saebani dinilai dari tiga aspek yaitu bidang pendidikan, kesehatan dan kesehatan. Dan Cianjur tetap menempati posisi diurutan rendah terus. Salah satunya adalah masih banyak siswa yang berhenti sekolah dan tidak melanjutkan ke jenjang berikutnya. Misalnya dari SD tidak melanjutkan ke SMP, demikian pula masih tercatat siswa lulus SMP yang tidak melanjutkan ke SMA/SMK. Yang paling besar adalah lulusan SMA/SMK yang enggan melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi.
"Namun dari data tahun 2025 kemarin, indek Statistik bidang pendidikan, Kabupaten Cianjur lumayan besar," ujar A. Saebani.
A. Saebani juga menyoroti kemampuan daya beli masyarakat Cianjur yang tetap rendah. Demikian pula dari sisi kesehatan dengan katagori peluang hidup berbuat di statistik ke dua terrendah di banding kabupaten/kuota lainnya di Jawa Barat.
Dadun Zaelani sebagai Hali Madia Disdikpora menyatakan pendidikan Kabupaten Cianjur ada peningkatan pada nilai IPM walaupun masih berkutat ke dua terrendah pada posisi IPM se Jawa Barat. Pemkab Cianjur menetapkan usia didik pada 25 tahun untuk masuk perguruan tinggi, demikian pula batas usia di bawah 20 tahun harus lulus dari sekolah tingkat menengah.
"Demikian pula untuk anak didik yang juga berstatus santri di pondok pesantren diupayakan semaksimal mungkin masuk jenjang pendidikan selanjutnya. Baik itu dengan masuk sekolah resmi maupun melalui PKBM," Kata Dadun.
Dadun mengakui dari PKBM yang ada di Kabupaten Cianjur, sebagian kecilnya tidak bisa mempertanggungjawabkan kinerjanya. Namun demikian, mayoritas PKBM masih bisa diandalkan kinerja dan pertanggungjawabannya.
"Sekitar 20% memang diakui kurang baik, tapi yang 80% berjalan dengan baik. Bagusnya memang, selain dari terseduanya satu PKBM satu desa, juga adanya penghargaan baik pelaku PKBM yang berberprestasi," ucap dia.
Marak melalui Abu Bakar menegaskan, khusus PKBM harus ada pembenahan diantaranya adanya nsatu PKBM dengan jumlah siswa 1000 anak didik. Namun, setelah di datangi lokasinya di Cianjur Selatan ternya jumlah tersebut tidak benar. Fiktifnya angka 1000 siswa ini akibat dari kebijakan Dapodik yang hanya berbasis data.
"Sementara dana BOS untuk PKBM sangat besar dari mulai Paket A, B maupun Paket C diatas satu juta rupiah," ungkap Alam.
Team Percepatan Pembangunan Daerah (TPPD) Kabupaten Cianjur, Abdul Qodir Majid menjelaskan, IPM jadi isue strategis bagi sebuah pemerintahan di daerah memang menyangkut sebuah ukuran pemcapaian kepemimpinan. Program Pemerintah Kabupaten Cianjur selain untuk peningkatan infrastruktur, juga tidak luput untuk meningkatkan kemampuan masyarakat baik dari sisi daya beli, kesehatan maupun pendidikan yang jadi acuan nilai IPM ini.
"Khusus PKBM, dulu, sebelum jadi TPPD saya sudah menyampaikan rentannya data fiktif ke pihak Dinas Pendidikan. Dari sini adanya potensi kerugian negara," tegas Abdul Qodir Majid.
Dirinya menyakini, untuk menjamin potensi naiknya IPM Kabupaten Cianjur, diwajibkan adanya sebuah tim monitoring. Hal ini karena Pemkab Cianjur sendiri menjadikan peningkatan IPM ini menjadi Pekerjaan Rumah (PR).
"Tim monitoring ini terdiri dari pengawasan perencanaan maupun eksekusi di lapangannya," tutup Abdul Qodir Majid. (Ruslan Ependi)