NETSEMBILAN.COM | CIANJUR- Keberadaan sanggar seni budaya warisan leluhur bangsa dalam kondisi memprihatinkan akibat tidak adanya perhatian dan kontribusi maksimal dari negara.
Seni budaya sebagai pagar batas atau personifikasi jati diri bangsa, seperti salah satunya prosesi serah terima pengantin yang dilangsungkan di kediaman Bapak Ujang Dana yang menikahkan putrinya Yanti, sudah sangat jarang dipraktikan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Khususnya Sunda.
Gempuran budaya asing melalui berbagai media hiburan, ditambah dengan pesatnya laju teknologi yang datang dari bangsa luar seolah dianggap tidak berarti atau tidak akan mempersulit keberlangsungan para pihak penggiat seni budaya di seluruh nusantara.
Drs. Ajak Sudrajat selaku pimpinan dari Lingkung Seni Wirahma Kisunda yang beralamat di Kampung Cimanggu, Desa Talaga sari, Kecamatan Kadupandak mengatakan, menjaga keberlangsungan seni budaya bangsa adalah kewajiban seluruh elemen penghuni Ibu Pertiwi atau Indonesia.
"Terutama kontribusi negara yang kami rasakan sangat minim terhadap kami," ketusnya kepada netsembilan.com, Rabu (16/02/2022).
Selain itu, menurutnya, eksistensi seni budaya nusantara terutama budaya Sunda akan semakin terpinggirkan akibat animo dari kalangan anak muda sebagai pemegang tingkat estapet budaya di kemudian hari sangat minim, bahkan menganggap seni tradisional itu kampungan.
"Padahal pada kenyataannya, banyak sekali para sarjana seni dari barat justru bersungguh-sungguh memperdalam seni tradisional kita. Ini persoalan perspektif saja," tandasnya. (Ruslan Ependi)
