Selama dua hari berturut-turut dari Sabtu hingga Minggu, DPC PKB Kabupaten Cianjur menggembleng para kader DPAC menyangkut ideologi perjuangan dan kesejarahan.
NETSEMBILAN.COM | CIANJUR - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kabupaten Cianjur gembleng 64 pengurus Dewan Pimpinan Anak Cabang (DPAC) PKB se-Kabupaten Cianjur, mulai dari Hari Sabtu hingga Minggu (6-7/12/2025) di Sarongge Valley, Desa Ciputri, Kecamatan Pacet. Materi pada Orientasi Politik guna memperkuat ideologi para kader.
"Narasumber dari politisi internal PKB, para pakar, birokrat/teknokrat dan pengamat politik Cianjur," ujar Ketua DPC PKB Cianjur, Lepi Ali Firmansyah. Senin (8/12/2025).
Lepi Ali Firmansyah menjelaskan, materi yang diberikan kepada para peserta orientasi yakni tentang ke-NU-an dan ke-PKB-an, mengurai sejarah panjang pergulatan teologi ahlisunah wal jamaah dan dinamika yang melahirkan NU sebagai organisasi berhaluan Aswaja yang selalu konsen terhadap isu-isu keagamaan, sosial dan kemasyarakatan.
"Termasuk peran-peran strategis NU dalam praktek politik kebangsaan, yang akhirnya NU melahirkan PKB sebagai bentuk baru untuk melanjutkan agenda-agenda politik keumatan di era reformasi," jelas dia.
Selain itu ada materi tentang Politik dan Kepartaian, lanjut pria yang akrab disapa Kang Lepi ini, ditekankan pula pentingnya wawasan dan pengetahuan politik mendalam, mengupas teori dan filsafat politik klasik sampai modern, termasuk dinamika kepertaian di zaman modern.
"PKB ingin kader memahami secara utuh, bahwa Partai PKB ini institusi politik untuk menjaga demokrasi dan supermasi sipil, dengan agenda yang fokus pada pemenuhan hak-hak politik rakyat," sambung Kang Lepi.
Menurut dia, tidak kalah penting, materi isu-isu pembangunan juga disampaikan, untuk menekankan keyakinan bahwa partai tidak melulu berbicara soal pemilu dan elektoral, melainkan juga bagaimana partai PKB ini bermanfaat dalam merancang dan mendesain kebijakan yang berkorelasi langsung dengan kesejahteraan masyarakat.
"Sebagaimana kaidah ushul fiqh Tashorruf al-Imam ala ar-Ra’iyah manuthun bi al-Maslahah. Yaitu kebijakan pemimpin terhadap rakyatnya harus dikaitkan dengan kemaslahatan," pungkasnya. (Ruslan Ependi)